Krisis Lingkungan dan Kesadaran Ekologis: Membaca Kebakaran Hutan Kalimantan dari Perspektif Laudato Si’
“Bumi kita yang tertindas dan hancur ini termasuk di antara kaum miskin yang paling ditinggalkan dan diperlakukan paling buruk; ia mengeluh dan merasa sakit bersalin.”
Paus Fransiskus, Laudato Si’ (No. 2)
Penulis : Hernandes Tino Raut, S.Sos
Setiap siklus kemarau tiba, bentang alam Kalimantan kerap berubah menjadi pemandangan muram. Langit kelabu pekat menggantikan biru cakrawala, aroma tajam vegetasi hangus menyesakkan dada, dan kabut asap tebal melumpuhkan denyut aktivitas warga. Di balik kepulan asap tersebut, kubah gambut yang terbakar di bawah tanah terus memuntahkan jutaan ton karbon ke atmosfer. Tragedi berulang ini bukan sekadar fenomena cuaca ekstrem tahunan, melainkan cermin nyata dari patahnya hubungan manusia dengan alam semesta.
Ensiklik Laudato Si’ (2015) yang digagas Paus Fransiskus menyajikan lensa jernih untuk membedah krisis ini: persoalan kerusakan lingkungan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan berakar langsung pada ketidakadilan sosial, kegagalan tata kelola kebijakan, dan rapuhnya etika kekuasaan.
Jeritan Bumi Berkelindan dengan Jeritan Kaum Rentan
Prinsip dasar ekologi integral menegaskan bahwa membela lingkungan hidup berarti membela martabat manusia (Laudato Si’, No. 49). Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memotret ketimpangan sosial yang telanjang:
Ketidakadilan Dampak Kesehatan: Anak-anak balita, kaum lansia, petani kecil, dan masyarakat adat adalah pihak yang menanggung derita fisik terberat akibat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Ketika sekolah diliburkan dan ruang gerak dibatasi oleh partikel berbahaya PM2.5, mereka yang rentan tidak memiliki akses terhadap ruangan berpenyaring udara modern.
Tergusurnya Ruang Hidup: Kebakaran memusnahkan keanekaragaman hayati unik—termasuk flora obat langka dan satwa endemik seperti orangutan—sekaligus merampas mata pencaharian tradisional masyarakat pedalaman yang menggantungkan hidupnya pada lestarinya rimba.
Ilusi Antroposentrisme dan Logika Menjarah
Karhutla di lahan gambut bukanlah kejadian yang terjadi begitu saja. Api kerap kali menjadi jalan pintas yang murah untuk membuka lahan monokultur skala luas dan konsesi ekstraktif. Pengeringan kubah gambut melalui kanalisasi buatan telah melucuti kemampuan alami tanah basah dalam menyimpan cadangan air.
Paus Fransiskus secara tajam mengkritik antroposentrisme tirani—sebuah ilusi keserakahan di mana manusia menempatkan diri sebagai penguasa mutlak yang berhak menjarah ciptaan sesuka hati (Laudato Si’, No. 67).
Ketika alam semata-mata dihitung sebagai komoditas demi akumulasi profit jangka pendek, mandat asali untuk "mengusahakan dan memelihara" bumi (Kejadian 2:15) telah disimpangkan menjadi eksploitasi destruktif tanpa batas.
Kerapuhan Regulasi di Bawah Bayang-Bayang Pasar
Tindakan pemadaman darurat melalui helikopter pengebom air (water bombing) hanyalah obat penenang sementara yang menangani gejala permukaan, bukan akar penyakit. Laudato Si’ mengingatkan bahwa politik sering kali tak berdaya ketika tunduk pada kekuatan modal keuangan dan kepentingan pasar spekulatif (No. 189).
Impunitas hukum bagi pelanggar batas konsesi, perizinan tata ruang yang koruptif, serta pembiaran atas perusakan ekosistem basah membuktikan bahwa penegakan aturan masih kerap tersandera. Menjaga keselamatan warga dan keutuhan ciptaan menuntut keberanian politik yang melampaui kepentingan elektoral atau kalkulasi rente ekonomi sesaat.
Panggilan Nyata Pertobatan Ekologis
Memulihkan Kalimantan membutuhkan pertobatan ekologis (ecological conversion) yang terwujud dalam langkah nyata:
Restorasi Hidrologis Gambut: Melanjutkan penyekatan kanal (canal blocking) dan pembasahan kembali (rewetting) lahan basah yang terdegradasi secara konsisten.
Penghormatan Hak Komunitas Adat: Memberikan kepastian legal atas wilayah adat dan menghargai kearifan lokal dalam mengelola hutan tanpa pembakaran destruktif.
Penegakan Hukum Tanpa Kompromi: Mengakhiri impunitas terhadap korporasi yang terbukti lalai maupun sengaja membakar lahan demi efisiensi biaya.
Solidaritas Kolektif: Membangun kesadaran kritis masyarakat luas untuk menolak produk-produk yang diproduksi dari rantai pasok perusakan hutan.
Kabut asap Kalimantan adalah rintihan ciptaan yang menuntut pertanggungjawaban moral kita bersama. Udara bersih, air yang murni, dan rimba yang lestari bukanlah kemewahan, melainkan warisan tak ternilai yang harus diserahkan utuh kepada generasi yang akan datang. Merawat bumi bukan lagi sekadar pilihan sukarela, melainkan kewajiban iman dan kemanusiaan untuk menjaga rumah bersama dari kehancuran.
Reviewed by hernandez deraut
on
8/30/2026
Rating:
