Jelang Penobatan Raja XIV Mahasiswa KKL Kuala Secapah 1 Rekam Jejak Sejarah Pencucian Pusaka Kerajaan
Mempawah Hilir – Menjelang puncak acara Tradisi Robo' Robo' 2026 dan Penobatan Raja Mempawah XIV, Istana Amantubillah menggelar ritual sakral Pencucian Pusaka Kerajaan pada Senin (10/8) sore. Ritual ini berlangsung dengan khidmat, tertutup, dan memegang teguh protokol adat kerajaan yang sangat ketat.
Mengingat tingginya kesakralan prosesi ini, akses keterlibatan secara langsung dibatasi hanya untuk pihak internal keraton. Namun, mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Kelompok Kuala Secapah 1 IAIN Pontianak mendapatkan kehormatan dan izin khusus dari panitia untuk hadir sebagai saksi sejarah sekaligus tim dokumenter kegiatan tersebut.
Berbekal izin resmi dari pihak Istana Amantubillah, tim KKL Kuala Secapah 1 berhasil merekam momen-momen langka saat benda-benda pusaka peninggalan leluhur Kerajaan Mempawah disucikan.
“Prosesi ini memang sangat sakral dan terbatas. Namun, kami memberikan ruang bagi adik-adik KKL Kuala Secapah 1 untuk mendokumentasikannya agar sejarah dan warisan budaya ini tetap terekam untuk generasi mendatang” ujar Angga La Salaga, selaku Wakil Panitia Robo-Robo Keraton Amantubillah saat diwawancarai sebelum prosesi.
Dalam ritual itu, sebanyak dua meriam Sigondah, 25 keris pusaka, lima badik pusaka dan empat tombak dikeluarkan untuk menjalani pencucian.
Bagi keluarga besar Istana Amantubillah, pusaka-pusaka tersebut tidak sekadar benda peninggalan dari masa lampau. Di dalamnya melekat nilai sejarah, simbol, serta kisah perjalanan kerajaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, ritual pencucian pusaka setiap pelaksanaan Robo-Robo memiliki makna lebih luas. Tradisi tersebut menjadi salah satu cara untuk merawat warisan budaya sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa sejarah Mempawah tidak hanya tersimpan dalam catatan, tetapi juga hidup melalui tradisi yang masih dijalankan hingga kini.
Kepada generasi muda, Pangeran Ratu Wirabuana berpesan agar tidak melupakan adat dan tradisi leluhur. "Kita tidak bisa maju tanpa mengingat adat, karena itu adalah marwah kita. Adat dan budaya justru menjadi tameng terhadap pengaruh-pengaruh luar yang kurang baik," pesannya.
Menurutnya, rangkaian Robo-Robo terdiri dari tiga tahapan yang menjadi napak tilas kedatangan Opu melewati Kuala Mempawah pada 1737 untuk mendirikan kembali kerajaan: Haula sebagai peringatan hari kedatangan, ziarah ke makam Opu, dan upacara adat buang-buang.
"Robo-robo ini bukan milik salah satu suku atau etnis tertentu. Sejak awal berdirinya Mempawah, kerajaan ini sudah terdiri dari berbagai suku ada Bugis, Melayu, Jawa, Cina, Dayak, dan suku lainnya," ungkapnya, menegaskan bahwa tradisi ini menjadi sarana pemersatu masyarakat lintas suku dan agama di Mempawah.
Bagi Kelompok KKL Kuala Secapah 1, kesempatan ini menjadi pengalaman akademis dan kultural yang luar biasa. Meski tidak ikut campur tangan dalam pelaksanaan ritual demi menghormati batasan adat, peran mereka sebagai perekam jejak sejarah dinilai sangat krusial dalam upaya pelestarian Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Ketua Kelompok KKL Kuala Secapah 1, Muhammad Rifki turut mengungkapkan kebanggaannya atas kelancaran proses peliputan ini.
“Kami sangat menghormati protokol kerajaan sehingga kami fokus pada tugas dokumentasi dari area yang diizinkan. Bisa melihat langsung dan merekam ritual penyucian pusaka yang tertutup ini adalah sebuah kehormatan besar bagi kelompok kami” jelas.
Hasil peliputan dokumenter dari KKL Kuala Secapah 1 ini nantinya diharapkan dapat menjadi arsip visual yang edukatif, memperkenalkan nilai luhur Kerajaan Mempawah ke khalayak luas tanpa mengurangi kesakralan tradisi itu sendiri.
Rangkaian acara Pagelaran Warisan Budaya ini masih akan berlanjut dengan agenda Haul pada malam harinya, disusul Ziarah Akbar dan prosesi puncak Penobatan Raja Mempawah XIV yang akan digelar esok hari (11/8).
Penulis: Risma
Editor: Nafi'atun Nisa
Reviewed by Nafi'atun Nisa
on
8/12/2026
Rating:
