Tatung Bocil dalam Cap Go Meh dan Pentingnya Mengadopsi Kemajuan Peradaban Tiongkok
![]() |
| Sejumlah Anak di Bawah Umur Beratraksi Kerasukan Jin dan Mengakses Peralatan Tajam dalam Perayaan Cap Go Meh (istimewa) |
Singkawang - Saya tidak expect kalau pandangan ini cukup ramai diatensi publik, khususnya di Kota Singkawang, direpost sejumlah konten kreator lokalan. Semoga infonya beneran sampe ke Tjhai Chui Mie.
Artikel telah dimuat di beberapa media arus utama, seperti detik.com, klikwartaku.com, majalahmataborneo.com, dan Pontianak Times. Maka boleh jadi termasuk opini menarik sebab tidak mungkin masuk ke meja redaksi tanpa kurasi, sehingga memang terkatgori layak terbit.
Jadi begini, selaku WNI yang memiliki putra-putri keturunan Tionghoa, mempraktisi Wing Chun Fist Club Indonesia, ikut terlibat dalam pembuatan film Long Feng di San Khew Jong tahun 2016 lalu, terbetik ketertarikan saya akan kemajuan peradaban di China.
Bukan kaleng-kaleng, Imlek 2577 Kongzili di sana begitu meriah bersalut teknologi super canggih. Atraksi kung fu anak-anak terkolaborasi apik bersama puluhan robot akrobatik. Terlepas ada yang mengatakan bahwa video tersebut dirender dengan AI, namun siapa bisa menyangkal pihak penayang merupakan media kredibel bertaraf internasional?
Baca Juga
Diduga Rawan Eksploitasi, Atraksi Tatung Cap Go Meh Anak-anak Disarankan untuk Dilarang
Sejenak akhirnya saya berpikir, mengapa bangsa kita sangat sulit menerjemahkan kemajuan peradaban untuk ditarik menjadi kearifan lokal? Di usia menuju kepala empat, kerisauan saya terlampau kuat, ditemani kejenuhan melihat pementasan kita dari tahun ke tahun tampak itu-itu saja.
Khususnya dalam pelibatan anak di bawah umur untuk dipertontonkan, dikomersilkan melakukan atraksi berbahaya, kesurupan lalu dihujam benda tajam. Diklaim sebagai warisan budaya turun-temurun, si anak tidak bisa menolak kehendak lelulur, dan seterusnya.
Hemat saya-di sini lah negara hadir memberikan hukum positif sebagai otoritas netral melintasi suku, agama, keyakinan/kepercayaan. Bertujuan melindungi generasi pelanjut bangsa agar terhindar dari segala kemungkinan terburuk; luka ringan, luka berat, bahkan kematian.
Maka saya mencoba membuka diskusi kepada pihak manapun, baik yang diuntungkan maupun dirugikan melalui perspektif ini, tanpa kecuali pemerintah daerah setempat, juga dibantu Komisi Perlindungan Anak.
Harapannya jelas, ke depan pentas Cap Go Meh di Singkawang bisa semakin kreatif, adaptif terhadap teknologi, budaya mematuhi konstitusi, keselamatan buah hati pun tergaransi. Kemudian menjalin kerjasama dengan Negeri 1000 Tembok dan mampu mengakomodasi setiap perkembangan peradaban yang ada di sana untuk di bawa ke negara kita.
Penutup, saya mengutip secuil pemikiran Tao yang dijadikan, yaitu prinsip “Yin dan Yang” alias keseimbangan: 1) Segala sesuatu memiliki dualitas, 2) Perlunya keseimbangan antara ekploitasi, optimasi, hingga eksplorasi. Poin ini sangat penting, mengingat sebuah inovasi tidak bersifat jangka pendek, melainkan mesti dibarengi terobosan baru. (YBBN)
Sejenak akhirnya saya berpikir, mengapa bangsa kita sangat sulit menerjemahkan kemajuan peradaban untuk ditarik menjadi kearifan lokal? Di usia menuju kepala empat, kerisauan saya terlampau kuat, ditemani kejenuhan melihat pementasan kita dari tahun ke tahun tampak itu-itu saja.
Khususnya dalam pelibatan anak di bawah umur untuk dipertontonkan, dikomersilkan melakukan atraksi berbahaya, kesurupan lalu dihujam benda tajam. Diklaim sebagai warisan budaya turun-temurun, si anak tidak bisa menolak kehendak lelulur, dan seterusnya.
Hemat saya-di sini lah negara hadir memberikan hukum positif sebagai otoritas netral melintasi suku, agama, keyakinan/kepercayaan. Bertujuan melindungi generasi pelanjut bangsa agar terhindar dari segala kemungkinan terburuk; luka ringan, luka berat, bahkan kematian.
Maka saya mencoba membuka diskusi kepada pihak manapun, baik yang diuntungkan maupun dirugikan melalui perspektif ini, tanpa kecuali pemerintah daerah setempat, juga dibantu Komisi Perlindungan Anak.
Harapannya jelas, ke depan pentas Cap Go Meh di Singkawang bisa semakin kreatif, adaptif terhadap teknologi, budaya mematuhi konstitusi, keselamatan buah hati pun tergaransi. Kemudian menjalin kerjasama dengan Negeri 1000 Tembok dan mampu mengakomodasi setiap perkembangan peradaban yang ada di sana untuk di bawa ke negara kita.
Penutup, saya mengutip secuil pemikiran Tao yang dijadikan, yaitu prinsip “Yin dan Yang” alias keseimbangan: 1) Segala sesuatu memiliki dualitas, 2) Perlunya keseimbangan antara ekploitasi, optimasi, hingga eksplorasi. Poin ini sangat penting, mengingat sebuah inovasi tidak bersifat jangka pendek, melainkan mesti dibarengi terobosan baru. (YBBN)
Tatung Bocil dalam Cap Go Meh dan Pentingnya Mengadopsi Kemajuan Peradaban Tiongkok
Reviewed by Halo Pontianak
on
2/23/2026
Rating:
Reviewed by Halo Pontianak
on
2/23/2026
Rating:
